menu

Welcome...Pasang Status Facebook Sahabat Disini
Tampilkan postingan dengan label Wajib tahu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wajib tahu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

Belajar Mempercayai Orang Lain



Cerita Dari Mantan Mafia
Seorang mantan boss (mafia) Italia mengingat kenangan ketika ia masih kanak-kanak. Ayahnya, yang juga boss mafia, saat itu menyuruhnya memanjat sebuah tembok yang cukup tinggi. Tanpa berpikir panjang, si anak segera memanjatnya. Sesampainya di atas, si ayah segera menyuruhnya melompat turun. Tentu saja dia bingung. "Kenapa sudah susah-susah naik lalu disuruh melompat lagi", mungkin begitu pikir si anak.
Tetapi si ayah tetap bersikeras menyuruhnya melompat. "Turunlah, anakku,  dengan cara melompat", teriak sang ayah. "Ayo lakukan perintah ayah". Si anak tentu saja bingung, takut, dan sepertinya ia tidak percaya. "Ayah akan menangkap tubuhmu dari bawah", janji si ayah ke anaknya. "Nggak usah takut, ayah akan menyelamatkanmu." Akhirnya, anak itu teryakinkan oleh janji ayahnya. Dan beberapa saat kemudian, dengan posisi terjun payung, si anak melompat ke arah ayahnya yang sudah siap pada posisi menangkap.
Tetapi, ketika si anak melompat, anehnya, si ayah secepat kilat menghindar. Tentu saja tidak ada kesempatan bagi si anak untuk memperbaiki posisinya. Hidungnya mencium tanah, patah, dan berdarah. Tangannya terkilir dan memar. Napasnya berhenti sejenak. Untung tulang rusuknya tidak patah. Setelah sadar, dengan napas tersengal dia segera bangun dan memprotes bapaknya. "Bapak sengaja mau mencelakakan saya ya?" Dengan wajah tanpa dosa, si ayah menjawab:
"Kamu harus belajar untuk tidak percaya sama orang,
sekalipun pada ayahmu sendiri!"
Cerita di atas bisa Anda dapatkan di bukunya Francis Fukuyama (Trust, 1995). Dari informasi yang  ia dapatkan, ternyata cerita di atas bukan fiksi, melainkan fakta yang pernah benar-benar terjadi.  Kalau ditangkap pakai perasaan, memang itu praktek yang benar-benar kejam. Tega-teganya si ayah yang mestinya bertugas melindungi dan menyayangi anak, ternyata malah membohongi dan mencelakakannya.
Tapi, rupanya si ayah tidak mau pakai perasaan seperti itu. Kali ini si ayah ingin menggunakan logikanya. Si ayah ingin anaknya tahu realitas. Si ayah ingin mendidik anaknya. Pendidikan itu mahal, katanya. Dari pengalamannya sebagai boss mafia, memang realitas itu ya seperti itu. Terkadang harus belajar untuk tidak mudah percaya. Bahkan kalau pun harus percaya, janganlah kau berikan kepercayaan itu sepenuhnya.
Dipikir-pikir, bukan hanya dunia mafia yang penuh trik dan intrik seperti itu. Bukan hanya untuk calon boss mafia yang harus belajar bagaimana mempercayai orang dan belajar bagaimana untuk tidak mempercayai orang. Kehidupan normal seperti yang kita alami pun kerap diwarnai praktek-praktek yang mengharuskan kita untuk belajar kapan mempercayai orang lain dan kapan tidak.
Apesnya, untuk mengetahui "kapan" itu memang tidak mudah karena tidak ada bukunya. Sebab itu, banyak orang yang maunya jump to conclusion. Begitu dia dibohongi orang sekali, saat itu juga kesimpulannya adalah: "Saya tidak akan percaya lagi sama orang." Menurut teori Logika, keputusan yang jump to conclusion itu lebih sering salahnya.
â€Å“Percaya pada diri sendiri akan menumbuhkan keberanian,
percaya pada orang lain akan menarik dukungan.â€

Menjaga Stadium
Dua hal ekstrim yang sering dilakukan orang itu adalah: terlalu mudah percaya atau terlalu sulit percaya. Hal-hal yang serba terlalu itu biasanya "penyakit" atau sesuatu yang perlu kita perbaiki dari diri kita. Lebih-lebih kalau kita sudah bersumpah untuk tidak percaya sama orang atau bersumpah untuk selalu percaya sama orang. Menurut realitas kehidupan, dua hal ini termasuk yang tidak logis. Kenapa? Kalau kita tidak percaya sama orang, lantas kepada siapa kita akan percaya? Begitu juga kalau kita selalu percaya. Bukankah di dunia ini ada orang yang memang tidak bisa dipercaya?
Jika dikaitkan dengan penjelasan yang sudah-sudah, terlalu mudah percaya itu merupakan satu dari sekian gejala inferioritas (minder). Merujuk ke catatannya Gilmer (1975), di antara ciri khas orang yang minder itu adalah punya respon positif terhadap bujukan atau iming-iming yang tidak rasional. Ada orang-orang tertentu yang lebih enak untuk dibohongi dengan yang wah-wah ketimbang dijelaskan yang sebenarnya (secara rasional). Bahkan dalam praktek rekrutmen PNS atau lowongan kerja ke luar negeri, tidak sedikit yang mau membayar berjuta-juta karena iming-iming yang tidak ada dasarnya atau fiktif.
Nah, itu adalah contoh dari sekian contoh yang bisa kita jumpai dalam praktek hidup. Banyak orang yang sepertinya telah memberikan kebaikan kepada orang lain, namun dasarnya bukan ingin menjadi orang baik dan memberikan kebaikan,  melainkan karena kelemahan. Suami-istri yang "menikmati kedzaliman" pasangannya tanpa alasan-alasan yang positif juga termasuk di sini.
Jika terlalu mudah percaya yang terkait dengan inferioritas, terlalu tidak percaya juga terkait dengan inferioritas. Lebih tepatnya adalah feeling lack of (something) atau feeling fear of (something). Ini masuk akal juga. Kenapa? Biasanya, kita itu menilai orang lain sama seperti kita menilai diri sendiri. Kalau kita menilai diri kurang atau terancam, maka kita akan cenderung menilai orang lain sebagai sumber ancaman dan kekurangan. Karena itu kita tidak mudah percaya. Seorang kawan berseloroh sambil mengatakan, inilah jawaban kenapa orang kita itu tanda tangannya masya-Allah ruwetnya.
Ada yang mengaitkannya dengan arogansi. Arogansi adalah perasaan lebih unggul dari orang lain dan itu kita terapkan dengan cara merendahkan orang lain (ucapan, sikap, dan tindakan). Karena kita menilai orang lain itu tidak sehebat kita atau tidak se-soleh kita, makanya kita tidak mudah percaya. Arogansi pun sumbernya adalah keminderan, ketakutan atau kekurangan. Karena kita takut jika dianggap tidak hebat atau tidak suci, maka efeknya adalah menutupi ketakutan itu dengan arogansi.
Ada lagi yang mengaitkannya dengan kepribadian perfeksionis. Kajian teoritisnya membagi perfection ini menjadi dua. Ada yang bagus dan ada yang jelek (penyakit). Yang bagus adalah possible perfection. Artinya, kita mengusahakan sesuatu sampai ke standar yang paling tinggi atau seoptimal mungkin. Misalnya saja Anda diberi tugas oleh kantor namun Anda tidak mau menyerahkannya sebelum Anda benar-benar mengusahakannya seoptimal mungkin. Anda tidak biasa bekerja asal-asalan. Ini bagus.
Nah, yang jelek adalah impossible perfection. Bentuknya adalah, kita menginginkan segalanya ada dan terjadi sesempurna yang kita bayangkan atau menurut ukuran kita, tetapi dasarnya adalah rasa takut, rasa kurang, atau pengingkaran pada realitas. Jika possible perfection itu lebih pada proses mengusahakan sesuatu, tetapi impossible perfection lebih pada mendapatkan hasil. Impossible perfection inilah yang terkait dengan munculnya distrust.
Seperti yang sudah kita bahas sebelum-sebelumnya, semua orang itu sebetulnya punya yang namanya feeling lack of (something) atau feeling fear of (something). Entah itu karena fakta atau karena persepsi. Yang menjadi tugas kita adalah mengontrol stadiumnya. Merasa kurang, misalnya, jika stadiumnya sehat atau normal, akan memunculkan rendah hati. Jika stadiumnya kurang, yang muncul adalah minder atau terlalu mudah percaya. Jika berlebihan, yang muncul adalah rakus, arogan, atau tidak mudah percaya.
”Bagi orang yang pasif, ketakutan itu sering menjadi sumber kekerdilan.
Bagi orang yang agresif, ketakutan itu bisa melahirkan kebrutalan.â€

Melatih Diri
Di bawah ini ada beberapa proses yang bisa kita tempuh sebagai latihan untuk mempercayai orang lain:
Pertama, fair-kan pemahaman hidup. Bagaimana cara mem-fair-kannya? Caranya adalah hilangkan pemahaman yang menggeneralisasi. Misalnya, Anda berpikir tidak ada manusia yang bisa dipercaya atau sebaliknya. Kenapa ini dikatakan tidak fair? Dalam prakteknya, ada orang yang bisa dipercaya tetapi ada juga yang tidak. Jadi kuncinya adalah orang atau si anu, bukan semua manusia. Bahkan, kita pun terkadang butuh untuk mempercayai orang tetapi terkadang tidak butuh. Ini tergantung keadaan dan kebutuhan.
Kedua, spesifik. Kalau kita memberikan pekerjaan kepada sahabat karib karena alasan kepercayaan, padahal sebetulnya belum mampu, dipastikan hasilnya kurang kredibel. Sebaliknya, kalau kita berikan kepada orang yang mampu, tetapi kita tidak tahu komitmennya, hasilnya juga kurang kredibel. Artinya, hampir tidak ada orang yang bisa dipercaya untuk semua hal. Semuanya perlu diperjelas konteks-nya. Karena itu ada pesan: "Jika kita menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, tunggu saja kegagalannya." Ahli di sini bisa ahli karena skill-nya atau karena moralitasnya.
Ketiga, dalil yang mengikat. Ini kita butuhkan untuk hal-hal yang penting pada saat kita kurang mengetahui siapa dia. Dalil yang mengikat ini bentuknya banyak: ada yang fisik dan ada yang non-fisik. Misalnya saja kontrak resmi, perjanjian, lembaga atau organisasi yang menjadi payungnya, dokumen, lingkungannya, keluarganya, pandangan hidupnya, dan lain-lain. Kalau kita menyerahkan duit ke bank, tidak perlu tahu orangnya secara pribadi karena patokannya adalah lembaga.
Keempat, berani berkorban lebih dulu namun jangan jadi korban. Maksudnya, kita harus berani mempercayai orang lain dulu sebelum orang lain mempercayai kita. Artinya, butuh jiwa besar juga untuk mempercayai orang itu. Tetapi jangan sampai itu malah fatal. Supaya tidak fatal, ada yang menyarankan, jangan memberikan kepercayaan seratus persen kepada siapapun. Maksimalnya 80 %. Atau juga tetap pakai pertimbangan yang masak. Di tayangan tivi yang saya lihat bulan kemarin ternyata banyak mahasiswi yang menjadi korban janji-janji palsu temannya. Ini karena terlalu percaya tanpa perhitungan.
Kelima, aktualisasikan diri melalui berbagai peranan yang bisa Anda lakukan. Kenapa ini penting? Tujuannya antara lain: menghilangkan keminderan,  kesombongan dan menambah kematangan. Kalau Anda mahasiswa, usahakan jangan hanya tahu buku, komputer, dosen, dan kampus. Bergaul juga di luar itu. Kalau Anda pekerja, usahakan jangan hanya tahu kantor dan rumah. Masuk juga ke lingkungan lain yang agak berbeda. Minimalnya, kita perlu mengenal lingkungan lain.  Tapi proporsinya jangan sampai berlebihan.
Itulah beberapa hal yang bisa kita tempuh dalam proses belajar mempercayai orang lain dengan kesadaran. Yang tak kalah pentingnya untuk kita ingat adalah: tidak ada trust untuk kesepakatan yang dibangun di atas kejahatan. Ini berlaku internasional. Kesepakatan yang jahat itu hanya "kelihatannya" saja kokoh, tetapi bukti-buktinya tidak. Semoga bermanfaat.
”Memberikan tanggung jawab dan menaruh kepercayaan
adalah bantuan yang sangat bernilai bagi orang lain.â€

(Booker T. Washington)

Oleh : Ubaydillah, AN


>>Baca Selengkapnya

Bagaimana Menggunakan Perasaan



Apa yang ditawarkan ilmu pengetahuan dengan memunculkan istilah asertif dalam komunikasi itu sebetulnya jalan tengah. Jalan tengah di sini adalah cara yang paling tepat, paling lebih kecil negatifnya, atau paling dekat dengan efektivitas dan efisiensinya dalam komunikasi. Banyak bukti menunjukkan bahwa berkomunikasi secara asertif meningkatkan produktivitas, keharmonisan, dan jauh dari konflik yang dipicu oleh hal-hal sepele.

Seperti kita tahu, pengertian umum dari asertivitas itu adalah kemampuan seseorang dalam mengutarakan apa yang dirasakannya dengan cara-cara yang sopan, bisa diterima oleh naluri universal manusia (mempertimbangkan posisi orang lain), dan dengan memilih kalimat, argumen, atau alasan yang kuat. Dalam beberapa literatur komunikasi sering dijelaskan bahwa asertivitas itu adalah kemampuan seseorang dalam mengekspresikan pendapat, perasaan, sikap dan hak dengan cara yang meyakinkan tanpa melanggar hak orang lain (Self-assertion for Women,Pamela Butler, 1981, dll)

Misalnya kita menerima sms untuk menghadiri acara launching buku yang dipanitia nya kawan sendiri. Dengan membaca sekilas saja, kita sudah tahu pasti kita tidak bisa datang karena alasan yang sangat spesifik. Kita kemudian menjawabnya dengan meminta maaf dan terima kasih atas undangannya. Supaya lebih asertif lagi, kita tambah dengan kalimat, tolong lain kali saya dikabari sehari-dua hari sebelumnya supaya bisa mengatur waktu. Ini mungkin hanya sekedar contoh umum.

Lawan dari asertif (ekstrim kanannya) adalah mendiamkan apa yang kita rasakan tentang orang lain (non-assertive passive). Banyak benih konflik yang akhirnya berubah menjadi koflik besar di luar kontrol karena mendiamkan perasaan. Meminjam istilahnya Hawk Williams (1996), mendiamkan perasaan (terutama yang negatif tentang orang lain), sangat berpotensi membuat kita kehilangan perspektif yang sehat terhadap orang itu. Maksud dari perspektif yang sehat di sini adalah kita sudah tidak bisa lagi melihat sisi positif dari sekian sisi negatif yang kita versikan tentang orang itu. Kita sudah berkesimpulan bulat bahwa memang si Anu itu jelek. Padahal, mungkin saja si dia masih punya kebaikan.

Katakanlah di rumah kita ada seorang pekerja, entah itu sopir atau pembantu (baca: pekerja rumah tangga) atau lainnya. Menurut kita, dia itu sudah sering melakukan kesalahan, tetapi kita hanya terus berharap dia sadar dengan sendirinya tanpa mengutarakannya atau mengarahkannya supaya tidak melakukan kesalahan. Jika ini terus terjadi, sangat mungkin kita akan kehilangan perspektif. Padahal, seandainya saja kita mau mengutarakan perasaan kita secara asertif, mungkin saja ini tidak terjadi.

Lawannya lagi (ekstrim kirinya) adalah tidak bisa mendiamkan perasaan (non-assertive aggressive). Tanpa rasa dosa kita mengutarakan apa yang kita rasakan tentang orang lain dan kita tidak mau peduli apakah bahasa kita itu enak di perasaan si penerima atau tidak. Yang penting buat kita adalah kita sudah mengutarakan apa adanya. Untuk meyakinkan si penerima, kita berdalih dengan kejujuran. "Jujur lho saya katakan itu!"

Nah, dalam literatur ilmu pengetahuan apapun, yang namanya asertivitas itu sangat terkait dengan istilah kemampuan (the ability); bahkan dalam literatur manajemen disebutnya dengan istilah kompetensi. Maksudnya di situ adalah, seseorang menjadi asertif karena ada proses perbaikan yang dijalankan atau ada usaha untuk memperbaiki cara berkomunikasinya. Ini berbeda dengan dua lawannya itu (ekstrim kanan dan kiri). Tidak ada yang menyebutnya sebagai kemampuan. Keduanya sering disebut sebagai "attitude".

Memang, untuk menjadi asertif dalam mendemonstrasikan perasaan itu tidak ada cara yang mudah. Dalam arti bahwa begitu ada keinginan langsung terwujud menjadi kenyataan. Orang yang sekelas Tony Blair saja mengakui ini. Seperti dikutip dalam sejumlah situs motivasi, Tony Blair katanya pernah mengatakan begini: "Yang sulit adalah mengatakan "Tidak"

Kemampuan dalam menjalin hubungan dengan
orang lain  adalah "komoditas" yang harganya mahal.
(John D Rockefeller)

Mengukur Tingkat Asertivitas
Seperti yang saya singgung di muka, asertivitas itu kemampuan. Namanya juga  kemampuan, tentu ini terkait dengan sejauhmana kita selama ini meningkatkan kemampuan itu. Sekedar sebagai acuan pribadi, kita bisa menjadikan petunjuk di bawah ini sebagai panduan untuk perbaikan diri.

Asertivitas kita masih tergolong rendah apabila cara kita dalam berkomunikasi masih didominasi oleh karakteristik umum di bawah ini:
·                     Kita lebih sering memilih mendiamkan orang lain karena takut dibenci, takut salah paham, atau takut orangnya tersinggung, atau sebel.  
·                     Kita lebih sering memilih mengungkapkan apa adanya dari apa yang kita rasakan tentang orang lain tanpa memikirkan bahasa, ungkapan, dan perasaan orang lain (hantam kromo)
·                     Kita lebih sering menggunakan bahasa atau penjelasan yang sangat normatif (terlalu sopan) sehingga kemana maksudnya, apa alasannya dan ditujukan kepada siapanya tidak jelas. Lebih-lebih jika ini kita tambah lagi dengan pernyataan yang ngalor ngidul.


Untuk tingkat asertivitas yang sudah berskala menengah, petunjuk yang bisa kita jadikan pedoman antara lain:
·                     Kita sudah lebih sering mampu mengutarakan isi perasaan ke orang lain dengan bahasa dan ungkapan yang sudah kita seleksi dan sasaran yang kita inginkan bisa dipahami orang lain.
·         Kita sudah lebih sering mampu mengarahkan orang lain dengan penjelasan dan alasan yang detail sehingga orang lain bisa menangkapnya atau bisa mendorong orang lain untuk meningkatkan prestasinya
·                     Kita sudah sering mampu mengatakan "Tidak" dan "Ya" untuk alasan, kebutuhan, dan keadaan yang tepat. Kita mengatakan "Tidak" untuk demand yang tidak rasional.
·                     Kita sudah sering mampu menjelaskan kekurangan orang lain dengan semangat, bahasa, dan penjelasan yang mendorong orang lain untuk memperbaikinya. Misalnya saja kita sudah memakai data, fakta, rujukan ilmiah atau alur berpikir yang lebih jelas dan kongkrit
·                     Kita sudah sering mampu meluluhkan ke-ngeyel-an, defensivitas, dan subyektivitas orang lain dengan cara yang bagus, termasuk mampu menjelaskan konsekuensi tindakannya secara detail dan bisa diterima. 

Sedangkan yang termasuk dalam kategori tingkat tinggi itu ciri-ciri umumnya antara lain:
·                     Kita sudah tidak takut dengan potensi konflik, tidak juga punya ulah yang memancing konflik, dan di atas semua itu, kita sudah sering terbukti mampu menghadapi konflik dengan baik.
·                     Kita sudah terlatih menempuh cara-cara menghadapi konflik dengan terbuka, fair, dan memfokus pada isu, persoalan, interest, atau kemanfaatan, bukan karena sentimen pribadi, atau menggunakan cara-cara yang di belakang (menusuk dari belakang)
·                     Kita sudah terbiasa menyelesaikan konflik dengan sebuah keputusan untuk  bersepakat, entah itu bersepakat untuk sepakat atau bersepakat untuk tidak bersepakat, atau sudah terbiasa melakukan perundingan yang win-win atau lose-lose. Istilahnya adalah gentle menghadapi persoalan.
"Dua orang tidak bisa menjadi akrab apabila
gagal  memaafkan kegagalan kecil."
(Jean De La Bruyere)

Hambatan & Solusi
Normalnya, semua orang akan mendambakan cara berkomunikasi yang asertif. Tapi untuk merealisasikannya dibutuhkan kemampuan mengetahui dan mengatasi beberapa hambatan, baik internal atau eksternal. Yang umum, dari sekian hambatan itu antara lain:
Pertama, kalah oleh stereotype yang kita ciptakan sendiri atau oleh orang lain. Kalau kita sudah berkesimpulan ini memang gaya saya sebagai seorang perempuan atau laki-laki, sebagai orang kelahiran Batak, Jawa, atau Madura, hampir dipastikan kita gagal memperbaiki, meskipun sebetulnya kita mampu. Menurut pengalaman banyak orang, cara yang rasional untuk mengalahkan stereotype adalah dengan memunculkan dorongan untuk berubah dan menemukan model dari orang-orang yang pernah di-stereotype-kan seperti kita. Jika selama ini kita berkesimpulan karena ke-perempuan-an kitalah yang membuat kita sering memendam perasaan, kita bisa cari perempuan lain yang bisa mengungkapkan perasaannya secara asertif.
Kedua, malas berpikir, maunya jalan pintas, dan semisalnya, sehingga kita gagal menemukan bahasa, ungkapan, atau gaya yang enak diterima orang lain. Untuk orang yang sama sekali belum terbiasa mengungkapkan perasaan secara asertif, latihannya adalah dengan menciptakan skenario mental ditambah lagi dengan referensi orang lain. Misalnya kita sudah membayangkan apa yang kita katakan untuk menghadapi si A ketika begini, begini, dan begini. Kalau kita belum punya jurus, kita bisa mencontoh orang lain. Ini memang tidak menjamin keberhasilan, tetapi sebagai latihan, ini diperlukan.
Ketiga, kalah oleh opini, konsepsi, dan persepsi negatif yang kita ciptakan sendiri. Seorang ayah yang sudah menciptakan berbagai opini negatif tentang anaknya yang bernama si A, misalnya ingat nakalnya saja, ingat nilainya yang jeblok, ingat pembangkangannya saja, hampir dipastikan sulit berkomunikasi secara asertif. Yang akan muncul lebih dulu adalah ungkapan atau gaya yang dipicu oleh rasa kecewa dan amarah. Dari catatan Dr. Dilip Abayasekara, Ph.D., asertivitas itu sangat terkait dengan sikap dan penilaian kita. "Jika Anda menghargai, menghormati, dan mencintai sesuatu, Anda mudah menjadi asertif terhadap sesuatu itu", tulisnya.
Keempat, keminderan atau rasa tanggung jawab yang rendah. Keminderan berakar dari rasa takut (fear), rasa kurang (lack), dan rasa kosong (empty). Rasa takut bisa membuat kita memendam perasaan terlalu lama atau meletupkan perasaan terlalu cepat. Kalau kita sering cepat "nyolot", tidak berarti itu keberanian yang mendorong kita, melainkan lebih sering rasa takut yang tidak terkontrol.
Dengan kata lain, untuk meningkatkan asertivitas, yang diperlukan bukan semata menghafalkan tip berkomunikasi, melainkan lebih pada pembenahan jiwa. Semakin "pede" jiwa kita, semakin asertif cara komunikasi kita. Jiwa bisa ditingkatkan "pede"-nya dengan membekali data, fakta, pengalaman, komitmen, atau pengetahuan di bidang itu. Misalnya saja kita tidak setuju dengan pendapat orang banyak tentang suatu urusan. Sejauh kita punya pengetahuan yang mendalam tentang bidang itu, rasa takut kita pasti berkurang atau kita tetap pede dengan pendirian kita. Hilangnya rasa takut dan meningkatnya kepercayaan diri dapat membuat dada kita lebih luas.
Kelima,  cepat terpancing atau termanipulasi oleh situasi. Ini bisa kita lihat di jalan raya. Orang tersenggol sedikit saja, langsung ingin berkelahi. Bahkan seorang pengantin yang naik mobil mewah untuk dinikahkan saja bisa berkelahi dulu karena mobilnya lecet. Ini bisa terjadi karena kita mudah terbawa emosi dan situasi di tempat itu. Memang, diakui atau tidak, tempat dan waktu itu mempengaruhi asertivitas seseorang. Supaya kita tidak cepat terpancing, cara yang diperlukan adalah mengontrol diri dan mengarahkan percekcokan mulut pada kesepakatan, keputusan atau penyelesaian.   
"Kalau alat yang Anda miliki hanya palu, Anda akan
terbawa untuk melihat semua persoalan seperti paku."
(Abraham Maslow)

Oleh : Ubaydillah, AN

>>Baca Selengkapnya
Berikan Komentar Sahabat Nakaku
Langganan Artikel Nakaku

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Jika memang sahabat Nakaku mau copy artikel dan tidak untuk disalah gunakan ikuti langkah berikut :
1. Buka tools
2. option
3. content
4. hilangkan tanda centang enable javascript
5. Selesai

Ini juga berlaku buat blog2 lain yang gak bisa di copy paste koq .
Nakaku Update Ini Milik Fredian Maechosa/object>
|SELAMAT DATANG DI NAKAKU MEDIA|TEMPATNYA DOWNLOAD BAHAN KULIAH, PUISI, TRIK BLOG, SHARE PENGALAMAN DAN ILMU PENGETAHUAN|